MATEMATIKA YANG PUITIS DAN PUISI TENTANG MATEMATIKA

Pendidikan 19 Jun 2026 21:56 6 min read 98 views By Thomas Sutasman, S.Si.

Share berita ini

MATEMATIKA YANG PUITIS DAN PUISI TENTANG MATEMATIKA
Tantangan yang dihadapi guru, terutama guru matematika, adalah menumbuhkan minat siswa untuk mempelajari (atau mendalami) matematika. Apalagi sekarang ini, godaan untuk meninggalkan matematika sangat besar, seperti banyaknya alternatif games, media sosial, sehingga siswa cenderung malas untuk berpikir. Godaan tersebut sangat mudah di dapat atau akses, dan serba instan. Pun, adanya pandangan yang salah terhadap matematika yang hanya sebagai kumpulan rumus-rumus belaka. Tulisan ini menjadi salah satu alternatif untuk melihat pengaruh bahasa dalam pendidikan, khususnya pembelajaran matematika, yaitu bagaimana bahasa (sastra) mampu menumbuhkan minat siswa terhadap matematika.

MATEMATIKA YANG PUITIS DAN PUISI TENTANG MATEMATIKA
Oleh: Thomas Sutasman

Tantangan yang dihadapi guru, terutama guru matematika, adalah menumbuhkan minat siswa untuk mempelajari (atau mendalami)  matematika. Apalagi sekarang ini, godaan untuk meninggalkan matematika sangat besar, seperti banyaknya  alternatif games, media sosial, sehingga siswa cenderung malas untuk berpikir. Godaan tersebut  sangat mudah di dapat atau akses, dan serba instan. Pun, adanya pandangan yang salah terhadap matematika yang hanya sebagai kumpulan rumus-rumus belaka. Tulisan ini menjadi salah satu alternatif untuk melihat pengaruh bahasa dalam pendidikan, khususnya pembelajaran matematika, yaitu bagaimana bahasa (sastra) mampu menumbuhkan minat siswa terhadap matematika.

Dalam berbahasa paling tidak ada dua tujuan, bahwa bahasa merupakan alat menyatakan pikiran atau perasaan, dan bahasa merupakan alat komunikasi. Dalam keseharian, penggunaan bahasa memungkinkaan terjadi kerancuan, sebab beda penekanan dalam ucapan atau penggunaan kata yang kurang pas membuat berbagai macam penafsiran. Suatu ungkapan dalam bahasa akan kehilangan makna yang sebenarnya atau memperoleh makna yang tidak seperti dimaksudkan apabila terlepas dari konteksnya.

Dari asal katanya, matematika berarti ilmu pengetahuan yang didapat dengan berpikir, maka bahasa matematika berbeda dengan bahasa keseharian. Dapat dikatakan bahwa bahasa matematika bersifat penafsiran tunggal. Demikian pula matematika, jika dipahami terlepas dari kekayaan konteks kehidupan dan peradaban manusia, akan tereduksi menjadi sekumpulan lambang dan rumus dan seperangkat teknik perhitungan dan penalaran yang kering dan tidak bermakna, serta sama sekali tidak menarik. 

Berangkat dari situ,  Sriraman & English, dalam Sriyanto (2016),  menyatakan bahwa  matematika merupakan suatu aktivitas manusia dan akibat dari aktivitas ini dapat dirasakan secara objektif dari setiap objek matematika. Matematika merupakan aktivitas insani dan harus dikaitkan dengan realitas. Dengan demikian ketika siswa melakukan kegiatan belajar matematika, maka dalam dirinya terjadi proses matematisasi secara horizontal maupun vertikal. Matematisasi horizontal berproses dari dunia nyata ke dalam simbol-simbol matematika. Proses terjadi pada siswa ketika ia dihadapkan pada problematika kehidupan atau situasi yang nyata.

Sedangkan matematisasi vertikal merupakan proses yang terjadi di dalam sistem matematika itu sendiri; misalnya: penemuan strategi menyelesaikan soal, mengaitkan hubungan antar konsep-konsep matematis atau menerapkan rumus atau temuan rumus.  Dari dua hal tersebut, tidaklah mudah bagi yang belajar matematika, apalagi sudah ada kecenderungan sudah tidak senang matematika.  
Bahasa yang merupakan suatu sistem yang terdiri dari lambang lambang, kata-kata, dan kalimat-kalimat yang disusun menurut aturan tertentu dan digunakan orang untuk berkomunikasi. Demikian pula, matematika dapat dipandang sebagai suatu bahasa, karena dalam matematika juga terdapat sekumpulan lambang/ simbol, kata maupun kalimat. Lebih lagi bahwa bahasa matematika bercorak universal dan tidak dibatasi oleh suku bangsa, negara, budaya, maupun bahasa sehari-hari yang mereka gunakan, sehingga makna yang dikomunikasikan dalam dan oleh matematika pun dapat bermacam-macam.

Menurut Sriyanto (2017), puisi merupakan ekspresi pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi, yang dinyatakan dengan menarik dan memberikan kesan. Karena puisi merupakan ekspresi pemikiran, salah satunya pemikiran matematika, maka matematika dapat digunakan untuk mengekspresikan pemikiran, gagasan, dan perasaan secara menarik dan mengesan dalam bentuk puisi. Dengan demikian, pertama, kita dapat memandang bahwa pemikiran matematika adalah sebuah puisi. Kedua, kita puisi tentang matematika atau puisi dengan menggunakan istilah-istilah matematika.

Perlu disadari matematika adalah bagian integral dari kebudayaan manusia, mengandung dimensi kemanusiaan, memilik keindahannya tersendiri, dan memiliki banyak sisi menarik Sayangnya,  dalam proses pembelajaran matematika,  siswa mengenal matematika tidak secara utuh, sehingga  matematika hanya dikenal oleh siswa sebagai kumpulan rumus-rumus dan simbol-simbol belaka, tanpa dapat memahami makna dibalik rumus atau simbol-simbol tersebut. Padahal, bagi yang mengelutinya,  matematika akan menampakan keindahannya bila dipandang dari berbagai segi. Dari segi geometri,  ada geometri fractal yang tampilannya sangat indah dila ditampilkan pada layar komputer. Sedangkan dari segi bahasa, sangat memungkinkan bahwa  matematika dapat dipandang sebagai puisi. 

Dalam matematika terdapat pernyataan yang dinamai torema dan harus dibuktikan. Pembuktian sebuah teorema tentunya menggunakan penalaran yang logis, yang berdasar pada titik pangkal, definisi, atau teorema sebelumnya yang sudah terbukti. Struktur logis pembuktian tersebut bila kita amati merupakan puisi yang indah. Hanya pada puisi yang umum selalui multitafsir, sedangkan pada teorema atau pembuktian teorema selalu tafsir tunggal.

Bagi siswa SMP kelas IX, dalam mata pelajaran matematika pada Kurikulum Merdeka,  ada penurunan rumus kuadratik/ rumus abc untuk mencari akar-akar dari persamaan kuadrat yang perlu diujicobakan ke siswa untuk membacanya layaknya sebuah puisi. Berikut petikannya:
Persamaan kuadrat 〖ax〗^2+bx+c=0  dengan a≠0   dan a,b,c∈R ekuivalen dengan persamaan x^2+b/a x+c/a=0 dapat diselesaikan dengan membentuk kuadrat sempurna 〖(x+p)〗^2+q=0 dengan p=b/2a dan q=c/a-(b/2a)^2 sehingga didapat akar-akar persamaan kuadrat yaitu:
〖(x+p)〗^2+q=0
〖(x+p)〗^2=-q
(x+p)=±√(-q)
x=-p±√(-q)
x=-b/2a±√((b/2a)^2- c/a)
x=-b/2a±√(b^2/〖4a〗^2 - c/a)
x=-b/2a±√(b^2/〖4a〗^2 - 4ac/〖4a〗^2 )
x=-b/2a±√((b^2-4ac)/〖4a〗^2 )
x=-b/2a±  √(b^2-4ac)/√(〖4a〗^2 )
x=-b/2a±  √(b^2-4ac)/2a
x=  (-b±√(b^2-4ac))/2a
Sehingga dapat dirumuskan rumus abc:  x_1,2=  (-b±√(b^2-4ac))/2a.

Selanjutnya, membuat puisi tentang atau menggunakan matematika tentunya dapat mendekatkan dan mengakrabkan siswa dengan istilah, rumus, simbol maupun konsep-konsep matematika. Bisa jadi dengan puisi tersebut  siswa dapat lebih memahami makna di balik rumus, simbol, maupun konsep matematika tersebut. Selain sebagai salah satu cara pemahaman konsep matematika yaitu terfasiltasi proses berpikirnya, dengan puisi membuat matematika tidak melulu dipandang sebagai ilmu yang kering dan abstrak, tidak manusiawi dan sama sekali tidak memiliki keindahan. Tentunya dalam membuat puisi, siswa tidak sekedar merangkai kata atau istilah yang digunakan, namun terdapat proses dari memahami arti kata atau istilah, rangkaian kata dalam kalimat, dan bahasa yang  digunakan, sehingga puisinya menjadi bahasa yang menarik dan memberi kesan.

Amati salah satu puisi matematika berikut yang dibuat oleh Christina Nalle, sebagai berikut:
Lingkaran Kegundahan
suguhan sejuta makna
t'lah ciptakan s'buah limit yang transparan
dimana pahatan harga mutlak tak lagi berarti
hanya sebuah sumbu realita yang berarak menjauh
tinggalkan garis waktu yang bermain tajam
menjamah sebentuk gelisah......
menusuk relung khayalku........
mengoyak kutub perbedaan......
memasungku di titik ketakberdayaan
dan campakkanku di kekontinuan yang membunuh
jadikan sekawanan derita panjangku
'tuk hadirkan s'buah jarak.......
'tuk raih bayang semu...
'tuk lambungkan fungsi nuraniku....
dan tinggalkan diriku...
di lingkaran kegundahan........


Pada akhrnya bahwa mengekspresikan matematika sebagai puisi atau puisi mengenai (menggunakan istilah-istilah) matematika menandakan bahwa puisi  dan matematika merupakan bahasa universal umat manusia. Menjadi alternatif pembelajaran, puisi matematika layak untuk dicoba.(*)

Referensi: 
Damono, Sapardi Djoko dkk. (2011). Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia dalam Jebakan Kapitalisme. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma
Kemendikbud (2018), Matematika Untuk SMP/ MTs Kelas IX.  Jakarta: Kemendikbud
Nalle, Christina. (2000). Lingkaran Kegundahan. Buletin pembelajaran Matematika Idea Vol 2 No. 5 November 2000, Pendidikan Matematika, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
Pinurbo, Joko (2005). Pacar Senja. Jakarta: Grasindo
Rudhito, Marcellinus Andy. (2020). Filsafat Pendidikan Matematika Abad ke-21. Yogyakarta: Deepublish
Sakri, Adjat (1988). Ilmuwan dan Bahasa Indonesia. Bandung: Penerbit ITB
Sriyanto, HJ. (2017). Mengobarkan Api Matematika.Yogyakarta: CV. Jejak
Sumaji dkk. (1998). Pendidikan Sains yang Humanitis. Yogyakarta: Kanisius
Suriasumatri, Jujun S (2001). Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Sinar Harapan
Sutasman, Thomas (2021). Rupa-Rupa Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Egaliter.

 

 

Rumah Talenta Indonesia