LUKA BERTEMU DOA: Puisi Balada Supardi AR

Sastra 30 Jun 2026 18:38 9 min read 75 views By Supardi AR

Share berita ini

LUKA BERTEMU DOA: Puisi Balada Supardi AR
Puisi-puisi balada karya Supardi AR memperlihatkan bahwa puisi dapat menjadi ruang perjumpaan antara kisah, sejarah, dan kritik sosial. Melalui tokoh-tokoh yang sederhana, penyair menghadirkan pergulatan manusia yang akrab dengan kehidupan sehari-hari: kemiskinan, kehilangan, kekuasaan, dan harga diri. Balada tidak berhenti sebagai cerita, melainkan berkembang menjadi cermin yang memantulkan kenyataan zaman.

Balada yang Menyuarakan Luka, Menyalakan Ingatan

Puisi-puisi balada karya Supardi AR memperlihatkan bahwa puisi dapat menjadi ruang perjumpaan antara kisah, sejarah, dan kritik sosial. Melalui tokoh-tokoh yang sederhana, penyair menghadirkan pergulatan manusia yang akrab dengan kehidupan sehari-hari: kemiskinan, kehilangan, kekuasaan, dan harga diri. Balada tidak berhenti sebagai cerita, melainkan berkembang menjadi cermin yang memantulkan kenyataan zaman.

Dalam "Luka Bertemu Doa", sosok Soponyono menjadi lambang manusia kecil yang memikul beban hidup dalam sunyi. Penyair menghadirkan kemiskinan bukan sekadar sebagai keadaan ekonomi, melainkan sebagai luka batin yang perlahan menggerus martabat seseorang. Diksi-diksi yang padat dan metaforis membuat penderitaan terasa hidup tanpa kehilangan keindahan bahasa.

Sementara itu, "Balada Nyai Bagelen" menunjukkan kepiawaian penyair mengolah legenda dan sejarah lokal menjadi sindiran yang relevan terhadap kehidupan masa kini. Tokoh, peristiwa, dan simbol-simbol budaya dirangkai menjadi kritik yang halus terhadap kekuasaan, ketidakadilan, dan mudahnya suara rakyat diabaikan. Masa lalu dan masa kini seolah berdialog dalam satu tarikan napas.

Yang menarik dari kedua balada ini adalah keberpihakan penyair kepada mereka yang sering luput dari perhatian. Supardi AR tidak mengangkat tokoh-tokoh besar, tetapi justru menghadirkan manusia-manusia biasa yang menyimpan luka, harapan, dan keteguhan. Melalui mereka, pembaca diajak melihat bahwa di balik setiap kisah sederhana tersimpan persoalan kemanusiaan yang tidak pernah kehilangan maknanya.

Membaca kedua puisi ini adalah memasuki ruang yang penuh imaji sekaligus perenungan. Penyair tidak menawarkan jawaban, tetapi mengajak pembaca mendengar suara-suara yang sering tenggelam oleh hiruk-pikuk kehidupan. Di situlah letak kekuatan balada-balada Supardi AR: ia tidak hanya bercerita, tetapi juga menghidupkan empati dan kesadaran.

 

 

soponyono soponyono

bangun bangunlah

naik titilah reronce butiran kayu

jelajahi sunyinya malam

atas hening mantra pintamu

luka bertemu doa

malam sepertinya membuka pintu sengsara

 

soponyono menatap tikar lusuhnya

saat luka bertemu doa

ketika langit bocor meneteskan abu

nampak olehnya anak tidur memeluk televisi menyala

“bapak terlalu lama membawa sengsara!”

teriakan pecah dekat tungku menggigil

bau hutang mengeram di sekujur dinding dapur

 

soponyono soponyono

langkahmu tinggalkan bunyi sandal tuamu

"lelaki gagal memelihara bagian ruang hatinya"

kampung terbahakbahak lihat bongkok pundakmu

mulutmulut warung ramai menanak kabar busuk

seiring luka bertemu doa

nampak seekor gagak hinggap di bibir sumur tua

 

subuh datang tanpa kokok ayam

anak terlihat sibuk membagi almari tua

manakala luka bertemu doa

tak seorangpun mencari napas soponyono

roncean butir kayu tergantung di sisi jendela bambu

bergerak disentuh angin dingin

sunyi tersenyum memeluk soponyono paling akhir

 

LUKA BERTEMU DOA

 

klepurba, 25052026

 

 

Sri Panuwun pindah tahta bagai pejabat mutasi

kursi ditinggal, janji pun basi

Pangeran Awu Awu Langit naik panggung lagi

seolaholah rakyat cukup diberi nasi

Nyai Bagelen menenun dengan tenang menenun rajut

seperti rakyat menambal perut

ketan wulung tumbuh kedelai dijaga

tapi panen tak pernah setara dengan harga

 

selasa wage datang bagai rapat paripurna

anakanak riang belum tahu derita

Nyai Bagelen tetap menenun menunggu laba

tibatiba lembu menyusu sang janin lenyap sudah

oh apa beda bayi dan sapi?

di negeri gelap semua bisa diganti

susu pun bisa jadi pakan sapi

kebenaran dipelintir jadi hiburan bagi rakyat

 

suami memilih ketan sehitam pawarta

jawabannya hambar kosong makna

lihatlah lihatlah Nyai Bagelen murka amarahnya meronta

seperti rakyat mendobrak aturan buta

alat tenun mendorong lumbung bobrok

beras kedelai berhamburan retak jatuh di

desa Ketesan Wingko Tinumpuk mengingat

bahwa ladang subur bisa berubah laknat

 

oh di lumbung roboh anakanak jadi korban

rakyat kecil tumbang dalam putusan

Nyai Bagelen menjerit sejarah pun rawan

suara perempuan tak pernah didengar oleh zaman

Pangeran Awu Awu Langit pilih pulang

tinggalkan Bagelen dalam riwayat malang

elita berlari rakyat pun dipasung

kisah lama begitu terasa kini tersambung

 

tibatiba kabar duka datang suami meregang nyawa

kematian memang selalu milik orang biasa

ketan wulung jadi debu di udara

kedelai membusuk di tanah sengsara

Nyai Bagelen mewariskan pantangan nan getir

hari Wage disumpah sebagai hari getir

tak boleh jual beli tak boleh pesta

rakyat dicegah merayakan merdeka

 

“anakku Gento,” katanya getir

“ingatlah wage, ingatlah getir

perdagangan bisa runtuh sekejap

jika nasib dikendalikan kuasa gelap

jangan percaya pada pasar rasa buta

jangan ikuti pesta penguasa semu belaka

biarlah pantangan jadi pedoman

lebih baik miskin daripada dipermainkan”

 

pantang menanam kedelai pantang memelihara lembu

seakan semua aturan turun dari langit abuabu

padahal itu hanya tafsir luka perempuan

dijadikan hukum demi ketertiban

kain lurik pun jadi larangan keras

kebaya gadung melati dituding panas

kemben bangau tulis disamakan dosa

seperti tubuh perempuan diadili negara

 

Nyai Bagelen masuk kamar bagai oposisi

dihapus tanpa suara hilang dari kursi

murca tanpa jejak sejarah sunyi

seperti rakyat miskin dihapus dari sensus negeri

bau anyir tinggal catatan retak

nama perempuan dibekukan hidup kaku

orang ternganga lidahnya beku

tapi kekuasaan menulis kisah baru

 

Raden Bagus Gento warisi sumpah pahit

memimpin Bagelen dengan pantangan sempit

tiap wage dicegah tiap pasar ditutup

takut bencana dan mereka takut hukum disusun dengan semu

padahal wage hanya hitungan hari

celaka adalah lupa diri

balada bagelen jadi kitab aturan

dari air mata lahirlah ketertiban

 

wahai tanah bagelen tanah sumpah serapah

kisahmu tetap hidup di setiap pasrah

antara tenun lumbung dan harga murah

antara pejabat lari dan rakyat kalah

metamora menggulung zaman tak berubah

sapi jadi bayi hukum jadi darah

balada Nyai Bagelen tak lain satir nyata

dari masa lalu hingga hari kita

 

 

PEDHET KETAN WULUNG

: balada nyai bagelen

klepurba, 22.08.2025

 

 

 

 

sabtu pahing tersipu malu langit pajang menunduk rindu di depan tahta

sang Sultan duduk jemarinya memelintir amarah

berikan aku sesosok gadis pengusir lelah untukku

jangan bekas sebab cinta harus baru bukan bersisa

 

sang adipati mengangguk tidak membantah angin

Rara Sukartiyah sang putri

dengan kesetiaan ia peluk kesunyian perawan

diberangkatkan beriring lampu minyak serta harapan

meski ia pernah terjebak dalam nikah tanpa sentuhan

 

tibatiba: apa arti sunyi bagi telinga istana?

Bagus Sukra datanglah kenakan busana pengakuan

Sambil menyembah ia berseru:

wahai paduka sesembahanku dialah istriku

meski empat bulan lamanya kutinggal

istana pun membara terbakar api dapur juru masak murka

 

bara kemarahan sang sultan meluap bagai kuah keliru rebusan

memasak keputusan tanpa menyaring kenyataan

tiga prajurit digiring dari dapur kemarahan

menenteng titah seperti pisau dari loyang kekuasaan:

bunuh jangan tanya

tahta tak suka dibohongi

 

seperti telat tabur bumbu penyedap

kebenaran datang dengan langkah tergesa

aku suci meski pernah bersuami

sang putri membacakan catatan pengakuan

tercekat sang sultan seperti nasi pahit tanpa lauk

dengan wajah pucat mengutus pembatalan

 

sang adipati bersantap angsa di desa bener

—pindang banyak menari di pinggan sejarah

ki ageng menjamu dengan iringan sopan

tidak tahu siang itu akan berubah menjadi duka panjang

sementara pendapa melintang serupa isyarat maut menunggu

 

remangremang tiga utusan datang seperti bayangan serba ragu

pertama berdiri seperti patung galau

kedua melambai tapi tiada sempat berseru

lambaian itu—ditangkap sebagai aba-aba membunuh bukan membatalkan

 

pusaka pun mencabut diri telanjang dari baju warangka sendiri

di udara tubuh gigil sebelum bersarang di dada adipati

darah menyembur bukan marah namun kecewa.

pendapa bersaksi: angin pun terisak

piring-piring berguling berontak menolak lakon ini

 

dengan napas tercekat antara luka dan putus asa

Adipati bersabda bukan mengutuk, tapi mengingatkan:

-jangan lelungan dina setu pahing

jangan ngingu jaran wulu abrit

jangan mangan pindang banyak

jangan manggon bale malang

disertai peluh darah di dada ia peluk kematian

seperti rindu sahabat lama

 

di istana

sang sultan tampak beraut sesal dengan elegansi seorang raja terlambat:

ia mencuci tangan bukan darah

tapi rasa bersalah tidak akan luntur

sementara sejarah menulis bahwa

salah tafsir mampu mengorbankan cinta dan kebenaran

 

 

DARAH DAN NYANYIAN SEJARAH

: balada terbununya adipati wirasaba

grodjogansewoe, 22.05.2025          

 

dari bilik angin terlihat sang Kartosopo

keluar tanpa suara ia bawa bara dupa abjad purba

di tangan kirinya tampak segenggam pasir pusaka

di tangan kanannya bayangbayang senyap

ia tatap laut tiada goyah seolah mengingat sebuah perjanjian

 

akulah Kartosopo sang penjaga tanah pesisir

tidak kumiliki siapa pun selain luka

dan doa mewangi dupa

dengan gigigigi pedang pandan jangan engkau langgar

robekrobek kulit tubuh mengucur tinta merah

kutumpahkan kubenamkan dalam jantung bumi

 

di pelupuk malam camar menyebut namaku

ombak mendekap sisasisa dendam karang

perahuperahu pulang tanpa arah

Pandansimo menangis lewat desir tarian pasir

terbawa angin mengantar ruhku ke gumuk pasir paling sepi

 

sunyi digarami tangis leluhur

kujejaki jejak telapak kaki pengelana

di antara kidung dan mantra luka

kusapu sisa abu janji berserak di antara

batubatu lupa nama ijinkan

kusisipkan doa ke dalam cangkang kerang

bergaung lirih hingga tepi dunia

 

aku telanjang di hadapan rembulan

kubiarkan tubuhku dicium angin

samar dari utara datang suara ibu

membawa kisah nelayan hilang

seorang bocah menanam bendera di dada ombak

apakah ini tanah kita jaga atau

kuburan mimpi dibungkus janji

 

pernah aku simpan jimat di bawah nisan

agar tak ada pengkhianat datang berbisik

tapi malam panjang mengaburkan wajahwajah

datang menyulut bara lalu menghilang

aku hanyalah Kartosopo dari tanah sepi

menakar garam dengan luka

menulis takdir di atas pasir

 

pernahkah kau dengar?

langit memanggilku dengan bahasa gersang

seribu doa beterbangan seperti layanglayang

bentang benang panjang diputus oleh keputusan

dan tak ada keabadian di pesisir

selain pasir airmata juga pengkhianatan

serta ketabahan para perempuan tua

kehilangan rusuk utama

 

dari sela waru laut menua

kulihat anakanak memancing di senja kelabu

mereka tertawa belum tahu

tentang gelap tumbuh di balik batu

maka kulantunkan kidung dengan nada tertahan

kusulut dupa menghias langit

semoga ruh para penjaga menemani

mereka pulang dengan utuh

 

wahai Pandansimo  ya Pandansimo

kau bukan sekadar nama di peta

kau adalah luka tak pernah sembuh

tapi pelipur dalam setiap pelukan sunyi

kusematkan tubuhku di gumuk pasir

menanti musim kembali panggil namaku

 

BALADA PANDANSIMO

 

klepurba, 20.05.2025

 

 

 

bulan bongkok tua merunduk

di langit kampung sebelah

tubuhnya ditusuk daun kelapa

patah pada pohon lelah

 

saat laju jalannya terseok

sesampai di punggung pegunungan

berambut ilalang tubuhnya memerah

digarukgaruk duri perdu

dan pucukpucuk ilalang

 

kini ia tak lagi bersinar gagah

hanya remang bagai lampu

jalan desa tersedak angin malam

hingga ia lupa padam

pada waktunya

 

dulu ia dipuja dijadikan kalender

puasa penunjuk musim tanam tapi

kini anak-anak lebih percaya

pada layar ponsel bahkan

tak pernah menengadah

 

ia mengintip dari celah awan

tidak dipotret tidak dijadikan status

hanya disapa jangkrik dan suara kentongan di gardu ronda

makin jarang ditulis sebagai puisi

 

bulan bongkok tua pernah

jadi saksi lamaran rahasia dan

pernah menyaksikan tangis ibu

saat harga beras naik

lebih cepat dari upah lelaki suaminya

 

kini ia berjalan lunglai

melewati langitlangit kota

dipenuhi asap pabrik asap knalpot

membawa sinarnya sendiri

semakin redup namun belum tamat

 

ia tidak pernah mengeluh

dari waktu ke waktu dalam bentang

kabisat maupun masehi

meski punggung bongkok tak ada lagi

menyebut namanya selain penyair kampung

percaya pada luka

 

BALADA BULAN BONGKOK TUA

klepurba, 04.05.2025

Rumah Talenta Indonesia